Bandara ini benar benar menjadi tempat orang hanya untuk berangkat dan tiba. Kemungkinan bila bertanya pada para driver—supir—yang menanti di luar pintu kedatangan, mereka pasti akan menjawab beragam. Dan saya bisa bayangkan, ini pasti memusingkan para wisatawan.

Bali dan Labuan Bajo (Komodo National Park) merupakan contoh dua kota yang saling terkoneksikan. Bali, sebagai hub untuk menuju Labuan Bajo pintar betul menjerat wisatawan untuk stop di Bali, menghabiskan berapa persen uangnya di Bali sebelum atau setelah dari Labuan Bajo.

Bandara dipenuhi informasi yang cukup tentang kota ini. Dinding dinding bandara Bali diwarnai berbagai informasi.

Wajah kota Bali bahkan bisa ditemui di bandara Bali, mulai dari tipikal orang Bali yang mengenakan pakaian adat, makanan ringan Bali seperti kerupuk atau kacang. Tak perlu kaget, ayam betutu Bali juga tersedia di sini. Wisatawan memiliki pilihan, mau mencicipi dan menikmati Bali dari bandara saja, atau mulai membooking hotel dan tinggal beberapa hari di Denpasar, Kuta, Legian, Ubud atau destinasi lainnya.  

Sebagai kota yang tumbuh dan memiliki banyak potensi pariwisata, Kendari berpeluang mendapatkan limpahan wisatawan yang pergi dan datang dari Wakatobi, Baubau atau kota lain. Namun untuk menuju ke tahap ini, Kendari perlu membenahi informasi yang centang perenang, perlu meningkatkan infrastruktur pariwisata, menyiapkan sumberdaya manusia dan ….memberikan dukungan pada para tour operator yang selalu berjuang sendiri mempromosikan destinasinya.