Komoditas yang rendah bahkan tanpa risiko kegagalan adalah budidaya ikan bandeng karena bisa mencapai survival rate sampai 90%, tetapi karena waktu (siklus) budidayanya cukup lama sekitar 4 samapi 6 bulan dengan ukuran konsumsi (3-4 ekor/kg), ditambah harga jualnya di tingkat pengumpul relatif rendah (hanya berkisar antara Rp 14.000-Rp 18.000) sehingga tidak berdampak signifikan pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan pembudidaya.
Komoditas ikan yang lain yang sejatinya hidup di air tawar, namun sudah bisa diadaptasi untuk perairan payau dengan salititas toleransi salinitas sampai 10 ppm. Kelebihannya karena nilai jualnya bisa 2 (dua) kali lipat dari harga ikan bandeng dan dengan siklus budidaya yang lebih singkat (hanya 3 bulan) sudah bisa dipanen dengan berat 3-4 ekor/kg. Tantangannya bahwa belum tersosialisasi luas dan kekhawatiran pasar yang masih terbatas informasinya.
Berikutnya adalah komoditas rumput laut dan kepiting yang bisa menjadi alternatif. Masalahnya, pembudidaya air payau belum terbiasa dan familiar dengan budidaya ke dua komoditas yang juga punya nilai ekonomi yang baik dan cukup tinggi.
Itulah salah satu tugas pemangku kebijakan daerah utuk proaktif mensosialisasikannya sekaligus melakukan/membuat demplot dan menelusuri pasarnya. Agar nelayan dan pembudidaya ikan yang mendiami pesisir bisa terangkat derajat kesejahteraannya. (*)
