Winson menegaskan, Permata Bank berperan sebagai agen penjual sehingga produk investasi tetap dikelola langsung oleh pihak penerbit seperti pemerintah atau manajer investasi swasta. Ia menambahkan, setiap produk yang ditawarkan harus sesuai dengan profil risiko nasabah.

“Kami tidak sembarangan menawarkan produk. Nasabah harus mengisi kuisioner penilaian risiko terlebih dahulu, yang mencerminkan sejauh mana mereka siap menerima potensi kerugian dari investasi,” jelasnya.

Sebagai ilustrasi, nasabah dengan profil konservatif hanya siap menerima penurunan nilai investasi di bawah 10 persen, sedangkan profil agresif mampu menanggung risiko penurunan hingga 20 persen.

Hal ini dilakukan agar setiap nasabah mendapat produk yang sesuai kebutuhan dan kenyamanan mereka.

Segment yang menjadi fokus utama Bank Permata adalah segment Affluent, yaitu nasabah dengan AUM diatas Rp.500 juta & Program Saving Reward Plus yg menjadi salah satu daya tarik utama.