Ia menjelaskan, berbagai survei global menunjukkan penurunan kepercayaan masyarakat terhadap media. Hal itu dipengaruhi oleh polarisasi politik, misinformasi, disinformasi, tekanan komersial, hingga kemunculan konten berbasis kecerdasan buatan seperti deepfake.

Selain membahas isu kepercayaan publik, Abdul Manan juga menyoroti tekanan ekonomi yang dialami ruang redaksi. “Model periklanan tradisional runtuh, membuat banyak media kekurangan staf dan bergantung pada metrik digital. Akibatnya, wartawan sering kali didorong mengejar klik ketimbang kedalaman berita,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Media Telisik Indonesia, M. Nasir Idris, mengatakan, bertahan enam tahun di industri media bukanlah hal yang mudah.

“Dalam sebulan kami harus pontang-panting menyiapkan kegiatan ini sambil tetap melayani publik dengan rata-rata 50 berita per hari. Bertahan enam tahun dalam kondisi seperti ini bukan hal ringan,” ungkapnya.

Nasir menambahkan, ada tiga tantangan besar yang dihadapi media saat ini, yaitu maraknya framing buzzer yang menciptakan “kebenaran baru”, dominasi media sosial yang mengaburkan batas antara konten profesional dan personal, serta efisiensi anggaran yang membuat banyak media lokal terancam tutup.