Belakangan ini obat malaria Hydroxychloroquine dinilai bisa menangkal COVID-19, sehingga tak heran kini obat tersebut menjadi perbincangan publik.
Dilansir ElangNews.com, pengobatan dengan menggunakan hydroxychloroquine ini juga sempat dipuji Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Menurutnya, terapi pengobatan dengan bahan aktif tersebut cukup efektif untuk mengobati pasien yang terjangkit virus corona.
Namun, peneliti asal Amerika Serikat (AS) mengungkapkan fakta yang berbeda. Dimana, saat dilakukan penelitian terhadap ratusan orang di Pusat Kesehatan AS Veterans Health Administration, ternyata menunjukkan gejala yang berbeda. Terapi pengobatan dengan Hydroxychloroquine malah membuat kematian pasien lebih tinggi khusus pada pasien positif COVID-19.
Dalam penelitian yang didanai oleh National Institute of Health dan University of Virginia tersebut, para peneliti melakukan analisis terhadap grafik media para pasien di rumah sakit Pusat Kesehatan AS, dan hasilnya sudah dipublikasikan pada Selasa (28/4/2020) di halaman Medrxiv.org, server pra-cetak, yang berarti tidak diterbitkan dalam jurnal medis.
Dimuat CNN Indonesia, Rabu (29/4/2020), dalam studi terhadap 368 pasien, sebanyak 97 pasien COVID-19 menggunakan pengobatan hydroxychloroquine dengan tingkat kematian 27,8 persen.
