Wempy kemudian menyinggung beberapa persoalan di era SBY yang masih membekas di benak publik, seperti maraknya kasus korupsi yang dilakukan oleh sejumlah elit Demokrat, soal skandal pengadaan minyak selama periode 2012 hingga 2014 di anak usaha PT Pertamina, Pertamina Energy Trading Ltd (Petral), hingga mangkraknya pembangunan infrastruktur era SBY.

"Hal yang paling sederhana itu adalah deklarasi soal anti korupsi yang dibuat oleh partai penguasa. Kita lihat deklarasi itu dilakukan oleh petinggi partai Demokrat. Tapi sayangnya pesan korupsi justru lahir dari kelompok-kelompok ini. Kita tau ada Anas (eks Ketum Demokrat), bendaharanya (Muhammad Nazaruddin), Angelina Sondakh (eks Wasekjen) yang setiap hari nongol di TV," ungkapnya.

"Soal pengelolaan Petral, yang dapat keuntungan siapa? Itu kan mafia dalam negara, dalam mengelola kekuasaan. Siapa yang dapat manfaat itu?. Kemudian soal pengadaan Sukhoi dan sebagainya. Belum lagi kita bicara soal pembangunan infrastruktur. Coba lihat di jaman SBY, Hambalang itu jadi museum, infrastruktur lainnya juga mangkrak di Jaman SBY," lanjutnya menjelaskan.

Baca juga: Fadel Muhammad: Reshuffle Kabinet Membuat Harapan Baru

Sebelumnya, Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menyebut, begitu banyak tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini, seperti pandemi COVID-19, tantangan di bidang ekonomi, keuangan, pembangunan, kesejahteraan, penegakan hukum, demokrasi dan hak-hak sipil.