Sehari-hari sejak pagi Tina berjalan dari tempat tinggalnya menuju lorong-lorong kecil di pemukiman warga hingga menuju jalan besar demi mendapat plastik dan kardus bekas yang sudah tidak digunakan/dibuang.

Terkadang apabila anaknya sedang libur mereka juga ikut sang ibunda memulung. Walaupun Tina selalu melarang namun mereka tetap ikut.

Baca Juga: Suami Sudah Renta, Ibu Ini Rela Jadi Pemulung di Rantau Demi Sekolah Anak

Gerobak sederhana menjadi sahabat setia mereka berjalan menyusuri kota. Saat memulung, Tina hanya membawa sebotol air yang dikaitkan di gerobaknya dan disimpan ke dalam kantong kresek hitam agar botol minumannya tidak bersentuan langsung dengan sampah yang dipungutnya.

Sesekali Tina pergi mencari pohon yang rindang untuk berteduh dan melepas lelah. Hasil memulung Tina selama sebulan tidak menentu, tergantung dari banyaknya jumlah sampah yang dipungutnya.