Saat hendak pindah, mereka didatangi sejumlah preman yang diduga dari salah satu organisasi kelompok pemuda (OKP), para preman itu meminta uang keamanan kepada mereka. Lantaran baru pindah, keluarga Siu Lin lantas tidak memberi apa yang preman itu minta. Seketika, sejumlah preman itu menebar ancaman bunuh.

“Anak-anak saya tetap tidak memberi uang itu. Walau mereka mengancam akan membunuh kami kapan saja mereka mau,” ungkapnya.

Sejak saat itu, preman itu kerap mengganggu kenyaman keluarga Siu Lin. Sampai puncaknya, para preman itu melarang putranya, Vinson dan David, untuk parkir mobil di lahan kosong samping rumah mereka. Bahkan, preman itu sampai memukul wajah Vinson.

“Karena panik, anak saya bernama David pulang ke rumah dan mau memberi tahu apa yang terjadi. Namun kami tidak di rumah, yang di rumah anak bungsu kami bernama Wiliam. Dia yang kesal mendengar abangnya dipukuli bergegas mengambil samurai yang menjadi pajangan di rumah. Ia pun lari keluar rumah menemui preman itu,” ungkapnya.

Melihat ada keributan, seorang pria bernama Usuf Suripto, keluar rumah dan memarahi Wiliam karena membawa parang. Di situ, Wiliam didorong dan diduga dicekik oleh Usuf Suripto. Lantaran diduga dicekik, Wiliam pun berontak. Namun hal itu langsung diredam oleh abangnya, yaitu David dan Vinson.