KENDARI, TELISIK.ID - Kehidupan merupakan dialektika perjuangan yang hakiki, berputar bak roda yang tak pernah berhenti. Detik ini di atas, menit berikutnya di bawah. Terkadang, melebur dalam keringat dan debu jalanan adalah cara untuk menjawab tuntutan hidup.
Ibu Tina, sosok perempuan yang tidak lagi begitu ingat bagaimana menghitung umurnya sendiri. Ia berdarah Muna yang puluhan tahun lalu menginjakan kakinya di Ibu Kota Sulawesi Tenggara, Kendari.
Dia mencukupi kebutuhan hidupnya dari bak sampah. Mendorong gerobak dari rumah yang berlokasi di Kelurahan Anduonohu, Poasia, menuju sudut-sudut kota untuk mengumpul gelas-gelas berbahan plastik, memuatnya di gerobak sebelum pulang dan menimbangnya kepada pengepul.
Baca Juga: Alami Hidrosefalus, Bayi Ini Butuh Uluran Tangan
"Yah, begini saja, yang penting halal, dek," kata Ibu Tina saat ditemui di Jalan Jendral Ahmad Yani, berhadapan Stadion Lakidende, Kendari, Minggu (9/10/2022).
