Secara keseluruhan, ditenggarai keinginan perubahan PSI menjadi PSI Perorangan tidak hanya berkaitan dengan gagasan demokrasi, tetapi juga strategi politik yang cermat dalam memanfaatkan momentum perseteruan antara Jokowi dan PDIP.
Meskipun PSI Perorangan tampak memberikan ruang lebih luas bagi keterlibatan kader, pertanyaan besar tetap ada: sejauh mana demokrasi yang diterapkan benar-benar memberikan kebebasan dalam pemilihan kepemimpinan internalnya? Namun, jika hasil akhirnya tetap berujung pada terpilihnya Kaesang karena mobilisasi internal, maka citra demokratis PSI akan tetap dipertanyakan.
Singkatnya, PSI menyampaikan ide PSI Perorangan adalah upaya meraih simpatik masyarakat agar PSI bercitra positif dan terjadinya perbandingan antara PSI utamanya dengan PDIP. Hanya ditenggarai, PSI tetap tidak benar-benar demokratis dalam prosedur pemilihannya, sebab kader-kader partainya dalam memilih memungkinkan tidaklah otonom melainkan dimobilisasi, karena memang PSI kiblatnya adalah 'Jokowi,' jadi meski digelar terbuka dalam pemilihan ketua umumnya tetap hasilnya adalah Kaesang terpilih kembali sebagai ketua umumnya. (*)
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS
