2. Sistem Penanggalan: Bulan Suro mengikuti kalender Jawa yang menggabungkan sistem Saka dan Hijriyah, sedangkan Muharram menggunakan sistem kalender Hijriyah yang hanya berdasarkan peredaran bulan.

3. Perayaan: Dalam tradisi Jawa, perayaan bulan Suro lebih banyak mengandung unsur ritual dan mitos, seperti kirab pusaka dan tapa bisu, sementara dalam Islam, bulan Muharram lebih banyak diisi dengan ibadah seperti puasa, sholat malam, dan sedekah.

4. Makna Spiritual: Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro menjadi waktu yang penuh makna mistis dan introspeksi diri, sedangkan dalam Islam, Muharram dihormati sebagai bulan suci tanpa adanya unsur mistik.

5. Durasi: Bulan Suro dalam kalender Jawa tidak selalu berlangsung selama 30 hari, berbeda dengan bulan Muharram dalam kalender Hijriyah yang selalu berisi 30 hari. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani