JAKARTA, TELISIK.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kejatuhan harian terdalam dalam hampir tiga dekade pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Indeks ditutup merosot 11,57 persen atau 678,6 poin ke level 5.185,1 — penurunan satu hari terburuk sejak krisis moneter Januari 1998.
Kejatuhan terjadi hanya sehari setelah MSCI mengumumkan konsultasi publik atas rencana reklasifikasi Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi standalone market. Pengumuman lembaga penyedia indeks global itu memicu aksi jual panik di seluruh papan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Tekanan jual langsung menghantam pasar sejak bel pembukaan. IHSG dibuka anjlok 8,01 persen ke level 5.393,92. Kejatuhan sebesar itu otomatis memicu penghentian perdagangan sementara (trading halt) selama 30 menit sesuai aturan BEI yang berlaku ketika indeks jatuh 8 persen.
Namun jeda perdagangan tidak mampu meredam kepanikan. Setelah perdagangan dibuka kembali, aksi jual justru semakin deras. Pada penutupan sesi pertama, IHSG tercatat turun 10,76 persen atau 630,78 poin ke level 5.233. Indeks terus melorot hingga akhir perdagangan sore dan finis di 5.185,1.
Nilai transaksi membengkak hingga Rp31,75 triliun, mencerminkan derasnya arus penjualan. Secara intraday, indeks sempat menyentuh level 5.206 atau turun 11,21 persen sebelum kembali tertekan hingga penutupan.
