Kepanikan Melanda Semua Sektor
Hampir seluruh saham tercatat berakhir di zona merah. Data perdagangan mencatat hanya 11 saham yang menguat, berbanding 812 saham yang melemah dan 140 saham yang stagnan. Rasio ini menggambarkan betapa luasnya kepanikan yang melanda pasar.
Seluruh sektor kompak tertekan tanpa kecuali. Sektor barang baku menjadi yang paling dalam dengan koreksi 13,37 persen, disusul sektor kesehatan yang anjlok 13,16 persen dan sektor infrastruktur yang merosot 13 persen. Sektor perindustrian melemah 11,89 persen, sedangkan sektor energi terkoreksi 11,39 persen.
Saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi jangkar indeks ikut terkapar. Saham BBCA anjlok 14,81 persen ke Rp5.175, BBRI merosot 14,84 persen ke Rp2.640, BBNI turun 12,90 persen ke Rp2.970, dan BMRI melemah 14,82 persen ke Rp3.390.
Di tengah lautan merah, empat saham justru melonjak hingga batas penolakan otomatis atas (auto rejection atas/ARA). Saham BSWD naik 25 persen ke Rp5.625, ABDA menguat 24,93 persen ke Rp4.710, TRUK melesat 24,81 persen ke Rp3.220, dan CBPE terbang 24,75 persen ke Rp630.
MSCI Buka Konsultasi Reklasifikasi
Pemicu utama kejatuhan pasar adalah pengumuman MSCI pada Kamis (15/10/2026). Lembaga penyedia indeks global itu membuka konsultasi publik atas usulan reklasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market — sebuah status yang bahkan berada di bawah kategori frontier market.
