Biarpun ukuran genom bakteriofag sangat mungil, penelitian ini jadi bukti AI generatif sanggup merancang virus yang hidup, dilansir dari CNN Indonesia, Sabtu (8/8/2026).

Penerapan metode ini ke virus lain masih belum pasti. Kendati demikian, peneliti melarang riset pada patogen manusia, hewan, dan tumbuhan karena berisiko memicu lahirnya virus baru yang tak bisa ditangani medis.

Selain manfaatnya, riset ini dinilai memuat risiko biosafety dan biosekuritas yang tinggi. Perancang genom utuh pun diminta selalu didampingi ahli keselamatan.

Profesor Tom Inglesby dan Moritz Hanke dari Johns Hopkins University turut menyoroti hal ini. Menurut mereka, meski sangat menjanjikan, terobosan ini melahirkan isu keamanan yang mendesak: teknologi AI pembuat virus sudah ada, namun regulasi pengawasannya belum siap.

Menurut Tom Ellis, pakar rekayasa genom sintetis dari Imperial College London, capaian ini memang luar biasa, tetapi justru membuktikan betapa sulitnya merancang genom yang lebih rumit. Sebab, jenis yang dibuat ini terbilang paling kecil dan paling mudah.