Menurut analisis mereka, bakteri ini menghasilkan enzim yang mengasamkan lumen usus serangga sehingga mencegah virus masuk ke dalam sel.
Mekanisme ini berpotensi efektif untuk menghentikan infeksi berbagai flavivirus pada nyamuk, termasuk virus ensefalitis Jepang dan virus demam kuning.
Wang Daxi, seorang peneliti di BGI Research yang juga anggota tim, menjelaskan bahwa teknologi pengurutan baru memungkinkan lembaga tersebut menganalisis sampel nyamuk dalam jumlah besar secara efisien.
"Kami dapat memeriksa ratusan sampel nyamuk sekaligus dan mendapatkan informasi rinci tentang strain bakteri dan virus dengan akurasi tinggi dan biaya yang masuk akal. Kurangnya peralatan canggih sebelumnya merupakan hambatan besar," kata Wang dikutip dari CNN Indonesia.
Di Yunnan, perbandingan menunjukkan bahwa bakteri tersebut lebih dominan ditemukan pada usus nyamuk dari kota-kota dengan tingkat kasus demam berdarah yang rendah (Wenshan dan Puer) dibandingkan dengan daerah-daerah endemis demam berdarah seperti Xishuangbanna dan Lincang.
