Baca juga: Kim Jong Un, Sang Morning Star King
Melanjutkan studi di luar negeri, perjalanannya tidaklah mulus. Tantangan yang dia hadapi adalah persoalan biaya. Ia tak mau rebah. Tekadnya telah bulat, sekukuh karang di dasar samudera.
Ia tak mau kalah dari masalah cekikan biaya. Karena itu ia menjadi sales pompa air. Keuntungan yang didapat dari itu, ia gunakan untuk membiayai kuliahnya. Selama studi di Taiwan ini juga, Bagus banyak mengunjungi perpustakaan kampus, membaca jurnal, juga menghabiskan waktunya di laboratorium kampus Taiwan.
"Saya tahu kalau saya menyerah dan pulang ke Tanah Air maka semua selesai sudah. Tidak akan ada kesempatan lain. Tertutup sudah semua kesempatan. Tapi kalau saya bisa menyelesaikan ini (S2 dan S3) pintu kesempatan masih terbuka buat saya," jelas Bagus dilansir dari Kompas.com.
Seusai menamatkan pendidikan doktoral dari National Taiwan University, ia kemudian memutuskan untuk mengikuti pendidikan Post-doctoral di Institut de Mathematiques de Toulouse, Perancis hingga tahun 2014. Pilihan ini diambilnya dengan konsekuensi, harus belajar dari awal terkait bidang matematika. Selain itu juga dalam pendidikan ini ia diharuskan untuk menghasilkan jurnal ilmiah terpublikasi.
