Studi yang diterbitkan di jurnal Scientific Reports milik Nature dua tahun lalu ini merupakan yang pertama kalinya kutu busuk tropis dimanfaatkan untuk keperluan forensik.  

Peneliti postdoctoral Lim Li bahkan mendemonstrasikan dengan membiarkan kutu busuk mengisap darahnya sendiri untuk menguji degradasi DNA.  

Keunggulan kutu busuk sebagai alat forensik terletak pada kebiasaan mereka bersembunyi di tempat gelap seperti kepala tempat tidur, jahitan kasur, atau sarung bantal, tempat yang sering luput dari pembersihan di TKP.  

Berbeda dengan nyamuk atau lalat, kutu busuk tidak bisa terbang dan setelah kenyang, mereka hanya bergerak dalam radius 6 meter dari tempat makan, sehingga bisa membantu mempersempit lokasi bukti.  

"Mereka sempurna sebagai alat forensik karena bisa menjadi bukti ketika cairan tubuh sudah dibersihkan," tambah Hafiz.