Permasalahan berawal dari kekesalan guru dan siswa terkait penimbunan jalan oleh truk, di tengah cuaca kemarau dan angin kencang membuat guru dan siswa tiap harus menghirip debu karena penimbunan tersebut tak dilakukan penyiraman air.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari seorang guru, Rayu Mekuo menyebut, jika kronologi bermula saat truk yang mengantar tanah timbunan melewati sekolah mereka.

Karena cuaca sedang musim kemarau disertai angin membuat banyak debu berterbangan, bahkan memenuhi ruangan kelas dan ketika kejadian bermula para guru dan murid akan melaksanakan kegiatan upacara bendera.

Namun belum sempat melaksanakan upacara bendera beberapa truk melewati jalanan depan sekolah sehingga membuat sekolahnya berdebu

"Karena area lapangan berdebu kami keluar sekolah dan meminta pada pihak penimbun untuk melakukan penyiraman, karena sekolah kami sangat berdebu dan kami sangat terganggu," keluhnya.