"Di sektor hulu ada tiga, pertama yaitu program rutin penemuan prospek dan status sumber daya agar lebih mendekati akurasi. Kedua, rencana jangka pendek fokus pada mineral ikutan timah dan wilayah yang mungkin diusulkan jadi wilayah pengusahaan logam tanah jarang," paparnya.

Dan terakhir, rencana jangka panjang yakni melakukan penyelidikan di area hijau (green area) dengan masuk ke daerah yang secara regional dan pemahaman geologi kemungkinan akan dijumpai LTJ.

"Ketiga, rencana jangka panjang penyelidikan green area," imbuhnya.

Dikutip dari buku "Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia" Badan Geologi Kementerian ESDM pada 2019, logam tanah jarang (LTJ) ini merupakan salah satu dari mineral strategis dan termasuk "critical mineral" yang terdiri dari 17 unsur, antara lain scandium (Sc), lanthanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), promethium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), thulium (Tm), ytterbium (Yb), lutetium (Lu) dan yttrium (Y).

Meskipun demikian, unsur-unsur tersebut sangat sukar untuk ditambang karena konsentrasinya tidak cukup tinggi untuk ditambang secara ekonomis. Ketujuh belas unsur logam ini mempunyai banyak kemiripan sifat dan sering ditemukan bersama-sama dalam satu endapan secara geologi.