Chief Financial Officer Toyota, Kenta Kon, menyampaikan bahwa meski tarif impor kendaraan Jepang telah diturunkan dari 25 persen menjadi 15 persen, tantangan di lapangan tetap besar. Ia menilai struktur biaya baru yang harus ditanggung perusahaan menyebabkan tekanan berkelanjutan terhadap kinerja keuangan.

Para analis menilai beban tarif ganda yang harus ditanggung produsen Jepang berpotensi menguras sumber daya riset dan pengembangan dalam negeri. Kondisi ini juga dapat memperlambat inovasi serta memperlemah basis industri otomotif Jepang yang selama ini menjadi kekuatan ekspor utama negara tersebut.

Data Kementerian Keuangan Jepang menunjukkan ekspor kendaraan ke Amerika Serikat turun 22,7 persen menjadi 2,389 triliun yen selama April hingga September 2025. Volume ekspor juga menurun 2,4 persen menjadi 662.914 unit kendaraan.

Selain kendaraan, total ekspor Jepang ke Amerika Serikat juga mengalami penurunan 10,2 persen menjadi 9,7115 triliun yen. Angka tersebut menunjukkan dampak luas kebijakan tarif terhadap hubungan dagang kedua negara, yang sebelumnya menjadi mitra ekonomi utama di kawasan Asia-Pasifik. (Xinhua)

Penulis: Ahmad Jaelani