Beruntunglah keluarga Bung Tomo. Cerita Sulistiana: “Dua minggu kemudian, kami dipanggil oleh Kedutaan Besar Arab, Bambang (anak Bung Tomo) mengatakan bahwa Raja Fadh—Raja Arab Saudi—berunding dengan lima menteri tentang pengembalian jenazah Bung Tomo. Diputuskan, jenazah Bung Tomo diizinkan dibawa ke Indonesia."
Pemerintah Indonesia pun ikut membantu dengan mengirimkan tim pengembalian—yang terdiri dari dokter Moen'im ahli patologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo), dr. Soetomo S. Imam Santoso (dokter pribadi Bung Tomo), Salim Zaedan (sahabat Bung Tomo), dan Bambang Sulistomo (putra Bung Tomo). Mereka berangkat empat bulan setelah kematian Bung Tomo.
Salim mendapat cerita dari penjaga makam, selama musim haji, banyak jemaah pria asal Jawa Timur yang menziarahi makam itu. Saking banyaknya, si penjaga hafal letak makam. Kebetulan, tak banyak yang meninggal di hari Soetomo meninggal pada 1981 itu sehingga tidak sulit mencari makam berdasarkan tanggal kematian.
“Penutup makam dibuka oleh dr. Soetomo dan dr. Moen'im. Setelah jenazah ditemukan, dipastikan dan diidentifikasi oleh dokter Moen'im [sebagai jenazah Bung Tomo], kemudian dilaporkan [bahwa] jenazah diketemukan," tulis Sulistiana.
Bambang pun diberi waktu untuk ikut memastikan. Menurut Bambang, “Tubuh ayahnya masih utuh. Hanya pipi sebelah kiri yang menyentuh ubin saja yang dagingnya agak rusak."
