KENDARI, TELISIK.ID - Setiap manusia tentunya pernah mengalami ujian dan cobaan. Entah yang ia hadapi dirasakan ringan atau pun sebaliknya. 

Namun dengan cara itu, Allah subhanahu wa ta'ala mengukur atau menguji keimanan kita sebagai hamba-Nya, apakah kita akan menjauh atau sebaliknya mendekat dan bertawakal kepada-Nya.

Hakikatnya, ujian mencerminkan kasih sayang dan keadilan Allah subhanahu wa ta'ala pada hamba hamba-Nya yang beriman. Allah  ''tidak rela'' menimpakan azab yang tidak terperi sakitnya di akhirat kelak, hingga Ia menggantinya dengan azab dunia yang ''sangat ringan." Dalam perspektif seperti ini, musibah berfungsi sebagai penggugur dosa-dosa.

Jadi, semakin Allah subhanahu wa ta'ala cinta pada seseorang, maka ujian yang akan diberikan kepadanya semakin berat. Karena ujian itu mengangkat derajat dan kemuliaannya di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala. Manusia yang paling dicintai Allah adalah para Nabi dan Rasul. Mereka adalah orang yang paling berat menerima ujian semasa hidupnya didunia. 

Ujian yang mereka hadapi, melebihi ujian yang diberikan kepada manusia lainnya. Contohnya Nabi Ayub AS. Meski Allah subhanahu wa ta'ala mengujinya dengan kemiskinan dan penyakit yang sangat berat selama berpuluh-puluh tahun, tapi ia tetap sabar menghadapinya.