Air liur mengandung bakteri dan enzim yang membantu memecah makanan. Saat Anda memasukkan bakteri dan enzim ini ke dalam vagina melalui air liur, ini dapat mengganggu mikrobioma vagina Anda. Hal ini dapat membuat Anda berisiko terkena infeksi jamur atau bakteri vaginosis.
Air liur terkadang dapat memicu proses peradangan di vagina, yang menyebabkan rasa gatal dan perih. Terlepas dari risiko IMS tambahan, air liur itu sendiri tidak berfungsi sebagai pelumas yang baik. Ia tidak memiliki konsistensi yang licin seperti pelumas pribadi, yang dirancang untuk menciptakan kehalusan yang serupa dengan pelumasan yang dihasilkan oleh tubuh Anda sendiri.
Air liur juga menguap dan mengering lebih cepat, yang dapat mengembalikan gesekan yang tidak nyaman saat berhubungan seks. Karena seringkali sulit untuk menghindari pertukaran air liur atau kontak saat berhubungan seks, disarankan untuk menggunakan kondom dan bendungan gigi untuk mengurangi risiko penularan infeksi selama seks oral.
Dikutip dari Fajar.co.id, Psikolog Klinis, Inez Kristanti menerangkan, air liur atau ludah mengandung bakteri yang berbeda dari bakteri baik di vulva atau vagina. pH ludah juga berbeda dengan pH di vulva/vagina.
"Beberapa orang pake ludah untuk jadi pelumas/lubricant. Ini alasannya itu gak disarankan. Jadi meludah di vulva/vagina bisa mengganggu keseimbangan pH dan berisiko menimbulkan infeksi bakteri," ungkap Inez Rabu (11/1/2023).
