Menurut Robert, sikap Timses H2N sudah membatasi ruang dialektika masyarakat Manggarai seakan-akan Bupatinya Timses, padahal kalau sudah mengabdi untuk daerah maka jelas itu Bupati untuk masyarakat Manggarai.

"Sikap seperti itu berdampak buruk terhadap kepercayaan masyarakat Manggarai terhadap pemimpin baru. Jangan memukul mundur demokrasi ini dengan caci maki atau sikap yang menyerang personal," pungkas Robert.

Ia juga memberi penegasan terhadap H2N dan para Timses agar memahami NKRI sebagai negara demokrasi. Hal itu sebagai bukti normatif dimana demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

"Sebagai kekuatan hukumnya adalah kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD. Oleh karena itu kehadiran pemuda dalam dialog publik ini tentu berperan penting dalam pembangunan daerah," tutupnya.

Untuk diketahui, sebelumnya langkah FPM menggelar dialog publik ini rupanya mendapat tanggapan tak sedap dari para pendukung H2N di Pilkada 2020 lalu.