Musibah tidak membedakan sasaran yang dikenainya. Ia dapat menimpa manusia yang saleh, seperti seorang nabi, atau manusia biasa yang berbuat maksiat.
Jika datang kepada manusia saleh, maka musibah harus dilihat sebagai penguji sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 155 dan 156 yang artinya,
''Dan sungguh akan Kami berikan cobaan dengan sedikit rasa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah- buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (sesungguhnya kami semua adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami akan kembali).
Tetapi, jika menimpa orang yang biasa melakukan maksiat, maka musibah harus diartikan sebagai siksaan. Allah SWT berfirman dalam surah Muhammad ayat 10 yang artinya,
''Maka apakah mereka tidak melakukan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka. Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima akibat seperti itu.''
