Menurutnya, aksi yang digelar Formasi kemarin adalah aksi damai dengan cara baik-baik. Bahkan sebelum bergerak, massa aksi juga telah diimbau untuk tidak membawa ta'awu (parang adat) dan karada (tombak adat) serta tidak melakukan tindakan anarkis.
"Aksi kemarin murni karena adat sehingga kami memilih membawa gong sebagai salah satu simbol adat," tukasnya.
Lebih lanjut, Zul menerangkan jika Formasi justru kaget melihat bentangan kawat berduri di jalan utama menuju gedung DPRD Kolut yang membuat mereka kecewa.
"Ternyata pagar duri tersebut dipasang untuk mengantisipasi demo tandingan pada pagi hari itu, tapi pada saat aksi berlangsung kami tidak melihat massa aksi yang akan menggelar demo tandingan. Karena massa tersinggung, mereka melemparkan batu ke kawat duri, bukan melempar ke pihak kepolisian," bebernya.
Ketua Otadu Sultra menegaskan, saat Ketua dan Anggota DPRD Kolut beserta perwakilan Pemkab Kolut menemui demonstran, situasi belum chaos.
