Hidup di lingkungan Kerajaan Klungkung membuat Tantri mencintai Indonesia. Ia pun banyak membantu perjuangan rakyat Indonesia merebut kemerdekaannya.
Ia juga sempat berpindah-pindah daerah, termasuk di Surabaya dan Yogyakarta.
Pada 10 November 1945 yang kala itu di tengah perang, ia dengan lantang membacakan pidato berbahasa Inggris.
"Aku akan tetap dengan rakyat Indonesia, kalah atau menang. Sebagai perempuan Inggris barangkali aku dapat mengimbangi perbuwatan sewenang-wenang yang dilakukan kaum sebangsaku dengan berbagai jalan yang bisa kukerjakan," ungkapnya.
"Perwakilan Denmark, Swiss, Uni Soviet, dan Swedia. Kuminta mereka menyertai aku dalam siaran malam itu untuk memprotes tindakan pengeboman serta menyatakan sikap mereka mengenai tindakan Inggris (di Surabaya),’’ tulisnya lagi.
