Peristiwa itu membuat K'tut Tantri dijuluki 'Surabaya Sue' atau penggugat dari Surabaya.
Diceritakan pula bahwa Tantri pernah tinggal di Surabaya, tepatnya di pemancar radio gelap yang dikelola oleh Bung Tomo, pimpinan pejuang di Surabaya.
Di radio tersebut, Bung Tomo siaran dua kali setiap malam. Pemancar radio itu bernama Radio Pemberontakan dan lokasi tersembunyi di dalam sebuah rumah besar yang letaknya tidak jauh dari gedung pemancar yang resmi, Radio Surabaya.
Saat itu, Tantri diminta siaran dua kali semalam dalam bahasa Inggris dan menyampaikan laporan perkembangan yang terjadi di Indonesia pada bangsa-bangsa yang berbahasa Inggris di seluruh dunia.
Laporan yang disampaikan tentu saja dilihat dari sudut pandangan bangsa Indonesia.
