"Kemahirannya berpidato hanya bisa dikalahkan oleh Presiden Sukarno, Bagiku jelas, Bung Tomo sangat berbakti pada perjuangannya," ungkap Tantri saat bertemu dengan Bung Tomo.
Saat tak ada siaran, Tantri menghabiskan waktunya dengan melukis dan membuat spanduk untuk para juang. Ia mengutip sejarah Amerika dan Perancis untuk spanduk yang kemudian disebar ke seluruh kota dan desa di Jawa Timur.
Ia bertahan di Surabaya, sementara Bung Tomo melanjutkan siaran pidatonya dari Malang.
K'tut saat itu sangat dianggap berbahaya. Melalui siaran berita, Belanda menjanjikan 50.000 gulden pada orang Indonesia yang bisa menyerahkan K'tut Tantri ke markas besar tentara Belanda di Surabaya.
Sayembara tersebut pun dijawab sendiri oleh Tantri melalui siarannya di radio.
