JS menjelaskan bahwa ia bertemu dengan Agung di Masjid Nurul Falah, Lorong Puncak Wanggu, Kelurahan Lepo-Lepo, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, sekitar akhir Februari sebelum bulan puasa. Menurut pengakuan JS, Agung menyatakan bahwa ia hanya tinggal dengan tantenya karena ibunya telah pergi sejak kecil. JS kemudian membawa Agung untuk tinggal bersamanya di Jalan Kelengkeng, Kelurahan Anduonohu, Kecamatan Poasia, Kota Kendari.
Baca Juga: Santri Pondok Pesantren di Konawe Selatan Hilang 6 Bulan Kini Ditemukan, Pecah Tangisan Orang Tua
Dari keterangan Kasi Humas Polresta Kendari, Ipda Haridin, Senin (5/8/2024), selama tinggal bersama, JS memfasilitasi Agung dengan makanan, pakaian, dan memberikan ponsel. Pada 18 Maret 2024, Agung mengalami demam berdarah dan JS membawanya ke Puskesmas Poasia untuk menjalani perawatan selama seminggu. Setelah sembuh, JS sempat menawarkan untuk mengantar Agung pulang, namun Agung menolak dan meminta untuk tetap tinggal bersama JS.
Selama JS bekerja sebagai pemulung, Agung tinggal sendirian di rumah dengan pintu yang tidak terkunci dan sering berinteraksi dengan tetangga saat mengambil air di sore hari. JS mengaku tidak pernah mempekerjakan Agung selama enam bulan mereka tinggal bersama. Agung hanya tinggal di rumah dan bermain ponsel yang diberikan oleh JS dua hari setelah mereka mulai tinggal bersama.
JS beberapa kali menyarankan Agung untuk bermain di luar atau bergaul dengan teman-teman, namun Agung selalu menolak. JS mengaku tidak mengetahui bahwa Agung adalah anak hilang dari pondok pesantren karena keterbatasan akses media sosial. Beberapa kali JS mengajak Agung untuk pulang ke rumah keluarganya, namun Agung selalu menunda dengan alasan "nantipi".
