Namun demikian, varian yang dimiliki Indonesia memiliki jarak tembak lebih pendek dibandingkan AMRAAM-ER, yang bisa menjangkau sasaran lebih dari 40 kilometer.

Kendati memiliki sistem pertahanan udara seperti NASAMS, Fahmi mengingatkan bahwa Indonesia belum memiliki sistem pertahanan udara berlapis yang terintegrasi secara menyeluruh.

Sistem yang mampu bekerja real time dalam menghadapi ancaman rudal balistik, rudal jelajah, dan serangan drone dalam jumlah besar secara bersamaan masih menjadi kebutuhan yang mendesak.

“Belum ada sistem multi-layered integrated air defense yang mampu bekerja secara terpadu dan real time dalam menanggapi serangan rudal balistik, jelajah, maupun drone swarm secara simultan,” tegas Fahmi.

Ia juga menyoroti bahwa kondisi geografis Indonesia yang relatif aman jangan sampai meninabobokan. Meskipun Indonesia tidak berkonflik langsung seperti negara-negara di Timur Tengah, perkembangan teknologi senjata saat ini membuat ancaman bisa datang dari mana saja, termasuk oleh aktor non-negara.