Meski demikian, dapat saja pilihan bebas untuk membeli rokok berbeda dengan pilihan bebas untuk membeli barang konsumsi lain. Misalnya, bila ditilik dari tiga kaca mata berikut ini. Pertama, ada bukti bahwa banyak perokok tidak mengetahui atau menyadari penyakit dan kematian dini akibat pilihan bebas mereka.  

Kedua, merokok biasanya dimulai sejak anak dan remaja (menjelang dewasa). Anak dan remaja mungkin belum menyadari risiko kesehatan yang dihadapi akibat merokok. Akibatnya, mereka meremehkan biaya yang akan dihabiskan untuk merokok, yaitu biaya yang harus dipikul dimasa tua nanti (biaya perawatan kesehatan dan hilangnya berbagai kesempatan) karena tidak mampu mengubah keputusan yang diambil diwaktu muda (anak dan remaja).  

Ketiga, merokok memberi beban biaya pada orang yang tidak merokok. Dengan membebankan sebagian biaya kepada orang lain, perokok mungkin akan terdorong untuk merokok lebih banyak lagi dibanding jika harus memikul sendiri semua biaya itu. Ini tentu tidak adil.

Baca Juga: Menjadi Tuan di Negeri Sendiri Versus Naturalisasi Dokter Asing

Mereka yang bukan perokok jelas harus mengeluarkan biaya ekstra akibat ketidaknyamanan, gangguan kesehatan, dan iritasi yang disebakan tersebarnya kepulan asap di lingkungan sekitarnya. Selain itu, perokok disinyalir membebankan biaya finansial secara tidak langsung kepada masyarakat bukan perokok. Paling tidak, bila biaya pelayanan kesehatan pada tingkat tertentu dibayar dengan pajak umum, maka mereka yang bukan perokok ikut kebagian dari biaya itu.