Selain menimbulkan masalah sosial ekonomi, perokok akan menerima berbagai konsekuensi kesehatan akibat dari kebiasaannya. Konsekuensi tersebut, seperti ketagihan nikotin. Sifat kecanduan nikotin telah tersebar dengan baik melalui brosur, spanduk, maupun poster-poster, namun masih saja diremehkan oleh berbagai pihak, baik konsumen (perokok) maupun industri.
Merokok dapat mengakibatkan penyakit serta kecacatan yang fatal. Dan, bila dibandingkan dengan berisiko lainnya, risiko kematian dini akibat merokok adalah risiko yang luar biasa tingginya. Separuh dari perokok jangka panjang pada akhirnya akan meninggal karena tembakau, dan setengah diantara mereka terpaksa harus mengakhiri hidupnya dalam usia masih produktif.
Penyakit yang berhubungan dengan rokok telah terdokumentasikan dengan baik. Setidaknya terdokumentasi di dalam buku “Pedoman Diagnosis Penyakit Terkait Rokok" yang diterbitkan oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) tahun 2012. Setidaknya ada 15 penyakit terkait rokok dan mekanismenya terangkum di dalam buku ini. Dan, tentu saja terdapat langkah-langkah diagnosis, pencegahan, dan tata laksananya.
Kelima belas penyakit tersebut, yakni: stroke iskemik (infark serebri), penyakit jantung koroner, penyakit pembuluh arteri perifer, kanker, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), asma, infeksi saluran pernapasan, gangguan pada kehamilan dan janin, dampak merokok terhadap ukuran janin, dampak merokok terhadap perkembangan neurologis dan kognitif, bayi berat lahir rendah (BBLR), sudden infant death syndrome (SIDS), gangguan kesuburan (infertilitas) dan impotensi, gangguan reproduksi perempuan, dan terakhir diabetes.
Di daerah di mana kasus TBC masih tinggi, risiko perokok untuk terpapar kuman TBC, jauh lebih besar dibanding mereka yang tidak merokok. Bahkan dalam banyak diskusi, rokok pun disebut dapat menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh, sehingga akan mudah terjangkit suatu penyakit.
