Olehnya itu, Ia melanjutkan, Aliansi Mahasiswa Bersuara Sultra menginisiasi sejumlah pergerakan mahasiswa untuk membangkitkan kembali ruh perjuangan mahasiswa sebagai agent of change dan agent of control, melalui kegiatan FGD dengan tema "menyoal TKA di Sultra."

Baca juga: Ketua JaDI Sultra dan MPM UHO Buka Tabir Penolakan 500 TKA China

Kegiatan yang digelar secara virtual ini, menghadirkan para aktivis pemuda dan mahasiswa dari berbagai kampus di Sultra.

Diantaranya adalah Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Universitas Halu Oleo (UHO), Baharuddin Yusuf, Ketua Badan Eksklusif Mahasiswa (BEM) UHO, Pandyi Priyono, Ketua BEM Universitas Lakidende (Unilaki), Koordinator Aliansi Mahasiswa Bersuara Sultra, Hikma Sanggala, serta menghadirkan Pengamat Ekonomi Politik Muda, Supriyadi S.Ak., M.E.

Di lain kesempatan, Ketua Gerakan Mahasiswa (GEMA) Pembebasan Sultra, Aharuddin mengungkapkan, kebijakan diizinkannya TKA ini sejatinya bukan karena pemerintah peduli terhadap tenaga kerja lokal. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya karyawan yang saat ini dirumahkan tanpa ada kejelasan waktu kapan akan kembali bekerja.