“Aku tidak membiarkan dia menang, dia akan menang. Perlombaan ini adalah miliknya,” jawab pelari yang dilatih oleh Santi Perez ini.
Baca juga: Oki Setiana Dewi, Panutan Muslimah Indonesia
“Tapi Anda bisa menang!,” todong wartawan tadi.
“Tetapi apa arti kemenangan saya? Apa kehormatan medali ini? Apa yang akan dipikirkan oleh ibu saya?," jawabnya sambil melihat ke wartawan tersebut.
Kisah Fernandez itu seperti oase di padang gurun. Era kekeringan moral dan kesemrawutan etik yang dinamai disrupsi, memotret buas manusia melakukan segala apapun untuk menang. Fernandez seperti suluh di gelap mata manusia dari simpang sportivitas.
