Ketika itu, tubuh Nabi Adam terbakar karena panasnya matahari hingga membuat beliau menjadi hitam. Kemudian, Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Adam untuk menjalankan puasa pada saat Ayyamul Bidh atau hari-hari putih.
Nabi Adam AS pun melaksanakan puasa tersebut. Pada hari pertama, sepertiga tubuhnya menjadi putih. Begitu pula saat menjalankan puasa untuk hari kedua, sepertiga tubuh lainnya pun menjadi putih kembali. Hingga menyusul pada hari terakhir atau ketiga, sisa dari sepertiga badan lainnya juga tidak menghitam lagi.
Sementara pendapat versi kedua menyatakan, pada saat Ayyamul Bidh tersebut malam-malamnya menjadi sangat terang benderang karena terkena sinar bulan.
Bulan pun selalu menyinari bumi sejak matahari terbenam pada malam hari hingga terbit kembali untuk keesokan hari. Oleh karenanya, malam dan siang pada ketiga hari tersebut selalu menjadi putih atau nampak terang.
Tata cara puasa Ayyamul Bidh sama seperti puasa sunah lainnya, yaitu dengan terlebih dahulu berniat, tidak makan dan minum, juga menahan hawa nafsu dari terbitnya fajar hingga terbenamnya Matahari.
