“Kalau aku lebih sering jam 8-an (malam) dan paling telat jam 9-an (malam) sudah datang. Soalnya aku tinggalnya lumayan jauh di Kalideres,” sela Rini (nama samaran), rekan Tari, yang mengaku baru setahun terjun ke bisnis prostitusi karena harus membiayai dua putrinya.  

Tari dan Rini mengatakan, mereka setiap malam harus kucing-kucingan dengan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang melakukan patroli. Pasalnya, lokasi itu adalah ilegal dan mereka pun melayani tamu di bilik terpal biru beragam ukuran yang pasang-bongkar alias tidak permanen. Bilik itu terlihat jelas dari tepi jalan.

Meski ada beberapa laki-laki maupun mami yang dianggapnya sebagai germo menjaga, tapi itu tidak menjamin keamanan.  

“Ya, di dalam tenda (terpal, red) biru itu kami melayani tamu. Gak ada kasur dan hanya pakai karton atau karpet plastik. Setiap malam di sini selalu ada razia Pol PP dan juga patroli polisi. Bahkan pernah ada tamu yang tidak sempat memakai pakaian sudah keburu dirazia,” ujar Yeni, juga nama samaran.  

Sekali melayani tamu, kata Yeni, tarifnya sangat terjangkau. Hanya 80 ribu sekali main, dan itu sudah paling murah. Sementara itu, di Pesing yang tidak jauh dari ujung Jalan Raya Pantura, beberapa PSK juga mangkal di sini menunggu tamu yang mau menggunakan jasanya. Di lokasi ini, mereka melayani tamu tidak di dalam bilik terpal biru.