"Beliau merupakan seorang pejuang pers yang betul-betul menjadi panutan dan menjadi role model bagaimana seorang enterpreneur yang lahir dari dunia pers ternyata bisa bertransformasi menjadi wirausaha sukses di berbagai bidang," ungkap Sandi, seperti dilansir dari kompas.com.

Sementara itu Rektor UGM, Panut Mulyono mengungkapkan, Jakob banyak memberikan sumbangsih bagi kemajuan pers di Indonesia. Menurutnya Jakob mampu menghadirkan jurnalisme yang bermakna.

"Inilah yang patut diteruskan oleh pers Indonesia saat ini. Jurnalisme yang bisa memberi Makna. Bukan sekadar sisi kecepatan, kedalaman, keakuratan tetapi juga makna yang melingkupinya. Ini sejalan dengan mandat UGM bekerja untuk kemanusiaan dan pembangunan nasional," ucap Panut dilansir dari kompas.com.

Dilansir dari ibtimes.id, dalam hal menulis berita, Pak Jakob berpesan agar wartawan berada dalam kondisi in fear and trembling in anguish. Mengapa harus takut dan gelisah? Karena ketika keliru menulis berita, ia akan membuat pembacanya salah dalam memahami masalah.

Pahlawan pers nasional itu telah berpulang. Pusaranya di Taman Makam Pahlawan Kalibata menjadi saksi. Raganya tak dapat tersentuh lagi, namun kiprahnya menjadi pusaka yang bisa terus dikenang hingga generasi nun jauh hari.