Riwayat ini tercatat dalam kitab al-Nawadir karya Ahmad Shihabuddin bin Salamah al-Qulyubi serta Hayah al-Hayawan al-Kubra karya al-Damiry. Kedua sumber itu memuat kisah sebagai bagian dari pelajaran moral dan dakwah.

Utusan yang menyaksikan peristiwa tersebut kemudian melaporkan kepada raja. Sang raja datang sendiri untuk memastikan. Setelah melihat langsung, ia disebut ikut menyatakan tobat. Catatan menyebut perubahan itu terjadi tanpa paksaan, melainkan lewat pendekatan personal.

Baca Juga: Artis Muda Michelle Laurenz Temukan Hidayah Islam Setelah Masa Keraguan Agama

Kisah ini menggambarkan metode dakwah yang menekankan teladan tindakan. Tidak ada kecaman terbuka; yang ada hanya perjumpaan, doa, dan contoh sikap. Dalam konteks sosial, pendekatan semacam ini sering dipahami sebagai cara persuasif yang menyentuh sisi batin individu.

Cerita tersebut terus dibaca ulang sebagai narasi reflektif tentang perubahan hidup. Bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan gambaran bahwa proses tobat dapat lahir dari peristiwa yang sederhana.