Sasriadin, salah satu pemilik warung di lokasi pelabuhan mengaku, jalan menjadi rusak seperti itu akibat aktivitas mobil truk tronton yang lalu lalang.
“Penyebab jalan rusak ini kan karena aktivitas mobil truk tronton, dan jalanan rusak ini bukan karena masyarakat, melainkan aktivitas bongkar muat peti kemas ini yang dilewati mobil-mobil yang bermuatan 45 sampai 57 ton," kata Sasriadin.
Selain itu, masalah lainnya yang kerap dialami warga sekitar adalah debu jalan.
"Untung hujan masih sering turun kalau di musim kemarau, pohon bakau dan rumah sekitar warga Bungkutoko kuning akibat debu," ujarnya.
"Para pedagang kios di lokasi tersebut pernah patungan secara swadaya untuk membeli timbunan sekitar 30 ret, hanya untuk menimbun jalan yang berlubang dalam dan besar," lanjutnya.
