"Artinya, dalam 10 tahun, lompatannya bisa dua kali lipat lebih, dimana fondasi untuk menggapai itu semua sudah kita mulai dengan pembangunan infrastruktur dan konektivitas yang pada akhirnya menaikkan daya saing kita,” lanjutnya.
Ke depan, untuk memastikan hilirisasi memiliki dampak berganda (multiplier) yang besar bagi masyarakat, hilirisasi akan diarahkan pada komoditas yang mengoptimalkan kandungan lokal serta bermitra dengan usaha mikro kecil menengah (UMKM) petani dan nelayan, agar manfaatnya bisa terasa langsung bagi rakyat kecil.
Indonesia, dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, memiliki potensi besar untuk mengoptimalkan ekonomi melalui strategi hilirisasi industri pertambangan. Dalam upaya mendorong pertumbuhan berkelanjutan, pemerintah dan para pemangku kepentingan perlu menjadikan hilirisasi sebagai langkah strategis dalam mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi. Hal ini tidak hanya akan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah, tetapi juga akan menciptakan dampak positif pada penciptaan lapangan kerja, pengembangan teknologi, dan kesejahteraan masyarakat.
Penerapan hilirisasi industri bahan tambang mineral telah diatur dalam UU 4/2009 tentang Pertambangan Mineral. Salah satu anggota MIND ID, PT Aneka Tambang Tbk. (Antam), telah melakukan sejumlah proyek hilirisasi berupa pembangunan smelter feronikel di Kolaka, Sulawesi Tenggara, sejak tahun 1976 hingga saat ini. Selain itu, Antam juga telah melaksanakan proyek Smelter Feni Haltim dengan membangun smelter feronikel di Tanjung Buli, Halmahera Timur, Maluku Utara.
“Proyek ini berkapasitas 13,5 KTPA dan mulai beroperasi di kuartal II-2023. Rencana penggantian elemen brick di smelter feni membutuhkan 2-3 bulan, sehingga comissioning dimulai pada Mei 2023. Jika keduanya sudah beroperasi, maka kapasitas produksi feronikel Antam bisa meningkat 40.500 ton per tahun,” kata Sekretaris Perusahaan MIND ID Heri Yusuf, dikutip dari ruangenergi.com (11/8/2023).
