Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu telah mengisahkan: “Kami pergi bersama Rasululah Shallallahu Alaihi wa Sallam menuju rumah Abu Saif Al-Qayyin (sang pandai besi). Dia ini adalah bapak susu Ibrahim (karena istri Abu Saif menyusui putra Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam). Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun mengambil Ibrahim, lalu menciumnya dengan mulut (bibir) dan hidung beliau.” (HR. Bukhari no. 1303).

Bukan hanya itu, Aisyah RA juga menjadi saksi betapa Rasulullah mencontohkan bahwa mencium dan memeluk anak dalam Islam adalah bentuk kasih sayang dari Allah.

Aisyah menceritakan, “Suatu hari datang seorang Arab badui (yang biasanya kurang memiliki sopan santun) menemui Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu berkata, ‘Kalian mencium anak-anak kalian, sedangkan kami tidak pernah mencium anak-anak kami.’ Mendengar ucapan itu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ataukah aku memiliki apa yang telah Allah cabut dari hatimu berupa sifat kasih sayang.” (HR. Bukhari no. 5998 dan Muslim no. 2317).

Bila terbiasa mendapatkan ciuman dan pelukan dari orang tuanya, Islam memandang bahwa hal tersebut juga dapat menjaga kelembutan hati anak.

Saat memiliki kelembutan hati, anak-anak akan memiliki akhlak yang mulia. Karena anak telah meneladani kedua orang tuanya yang selalu bersikap lemah lembut dan menyayangi mereka.