Pandangan ini didasari oleh beberapa hadis Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, salah satunya yang mengatakan:

“Ketika Ramadan tiba, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan setan pun dibelenggu.” (HR Imam Muslim).

Imam Izzuddin memandang, dibukanya pintu surga sebagai simbol atau tanda untuk memperbanyak ketaatan, terutama yang diwajibkan.

Logika sederhananya, meskipun pintu surga telah dibuka lebar-lebar, apakah semua orang berhak melintasinya tanpa memperbanyak ketaatan selama bulan Ramadan dan bulan-bulan setelahnya? Artinya, dibukanya pintu surga merupakan dorongan untuk memperbanyak ibadah.

Tentang ditutupnya pintu neraka, Imam Izzuddin menganggapnya sebagai simbol, untuk menyedikitkan maksiat. Penggunaan kata “sedikit” ini menarik, seakan-akan Imam Izzuddin memahami betul manusia yang tidak mungkin sempurna dalam menghindari kesalahan. Manusia pasti membawa dosanya ketika menghadap Tuhannya di akhirat kelak, yang membedakan adalah kadarnya, banyak atau sedikit.