Ia menilai, bahkan sebagian judul film lokal kerap terasa asing bagi masyarakat Sultra sendiri. Karena itu, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menjadikan Sulawesi Tenggara sebagai rumah cerita, sekaligus memperkuat identitas lokal melalui karya audio visual.
Selain itu, JASF 2026 juga bertujuan melatih mahasiswa agar mampu menghadirkan karya yang layak ditonton publik. Dengan dipertontonkan secara terbuka, mahasiswa didorong menjawab ekspektasi penonton dan menyajikan karya terbaik mereka.
“Ketika film ditonton publik, ada tekanan positif agar mereka bertanggung jawab pada kualitas karya,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Panitia JASF 2026, Askar menjelaskan, kegiatan ini telah berjalan dua tahun berturut-turut, yakni sejak 2025 hingga 2026. Pada tahun pertama, rangkaian kegiatan meliputi pemutaran film, talkshow, dan pameran fotografi.
“Di tahun 2026 ini kami menambah dua item kegiatan, yakni lomba mewarnai (colour competition) yang pesertanya anak TK se-Kota Kendari, serta bazar UMKM,” jelasnya.
