Ali Mazi bersama istri Agista. foto isimewa

Bagi Ali Mazi, menjadi gubernur di tanah kelahirannya, Sultra, merupakan cita-cita yang dipendamnya sejak ia menjadi mahasiswa di Yogyakarta. Ia akan kembali kalau jadi gubernur,  begitu tekad lelaki yang memulai karirnya sebagai pengacara di Yogyakarta itu.  Dan, jika ia kembali, katanya, ia akan membangun Sultra seperti impiannya, dan itu harus dengan konsep pembangunan yang jelas.

Lelaki kelahiran Pasar Wajo, Kabupaten Buton, 25 November 1961, itu memang sempat menimbulkan tanda tanya di masyarakat Sultra.  Sebab, ia tak sepopuler para calon lain. Toh, semua itu bukan hambatan berat baginya.  Sebab, sebelumnya, Ali telah memberikan perhatian terhadap berbagai kendalan pembangunan di Sultra.  Terutama, mengingat Sultra merupakan daerah kepulauan, maka sektor perhubungan menjadi sangat penting.

Untuk itulah ia kemudian menginvestasikan pengoperasian kapal cepat pada tahun 1996 di wilayah Sultra. Pengoperasian kapal cepat tersebut bukan hanya menghubungkan antarpulau di Sultra, tetapi juga menghubungkan provinsi Sultra dengan provinsi Sulawesi Selatan.

Menelusuri kehidupan lelaki bertubuh gempal, ini memang tak terlampau instimewa. Artinya, perjalanan hidupnya hamapir sama dengan perjalanan hidup orang kebanyakan. Semuanya berjalan begitu saja bagaikan air yang mengalir.