Lalu, ia pun pernah dipercaya menjadi Koordinator Wilayah Se-Sulawesi, APPSI (Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia) membawahi wilayah se-Sulawesi. Di APPSI itu juga ia diserahi tugas sebagai ketua tim audensi dengan Menteri Perhubungan untuk wilayah Sumatera Utara, Maluku, dan Maluku Utara.
Ali Mazi sudah menjadi tulang punggung keluarga di usia 24 tahun. Di mata keluarga, Ali Mazi sosok luar biasa. Anak sulung tujuh bersaudara ini, memikul tanggung jawab besar. Terlebih harus ditinggal wafat ayah di usia 24 tahun (1985). Sejak itu, ia menggantikan ayahnya sebagai tulang punggung keluarga di usia sangat muda. Ia rela kerja membantu keuangan keluarga sambil kuliah. Apalagi, ibunya hanya ibu rumah tangga biasa.
Ayah enam anak itu pantang menyerah dalam kesulitan. Setiap langkahnya disertai doa restu ibu. Doa ibu menjadi senjata pamungkas Ali Mazi pada setiap ikhtiar karier masa depannya. Baginya, doa ibu menjadi kekuatan yang meringankan langkahnya. Setiap keputusan diambil, ia akan memilihnya setelah meminta maaf dan memohon doa sang ibu tercinta.
Gubernur Ali Mazi menerima kunjungan kerja Presiden Jokowi. foto istimewa
Pada pilkada gubernur tahun 2007, Ali Mazi mencalonkan diri untuk periode kedua berpasangan dengan H. Abdul Samad sebagai calon wakil gubernur. Namun, pasangan dengan akronim ‘Azimad’ itu kalah dari pasangan Nur Alam-Saleh Lasata, yang memimpin Sultra periode 2008-2013.
