Di atasnya dipasang bambu yang berfungsi menyerupai senar. Ketika dipukul, getaran menghasilkan bunyi dengan karakter berbeda. Lubang berukuran kecil menghasilkan nada tinggi menyerupai simbal, sedangkan lubang besar mengeluarkan nada bas.

Dalam pertunjukan tradisional, Kanda-kanda Uta tidak dimainkan sendirian. Alat musik ini biasanya dipadukan dengan gong besar, gong kecil, serta alat musik tiup untuk menghasilkan susunan irama yang mengiringi gerakan tari.

“Jadi satu paket,” kata Agung.

Dari sisi sejarah, penggunaan Kanda-kanda Uta diperkirakan telah berlangsung sejak abad ke-17. Kemunculannya berkaitan dengan aktivitas masyarakat Tolaki ketika memanen padi. Pada masa itu, masyarakat menginjak-injak padi secara bersama-sama untuk memisahkan bulir dari batangnya.

Aktivitas tersebut dilakukan dengan gerakan berirama dan kompak. Seiring waktu, gerakan itu berkembang menjadi tarian yang dikenal sebagai Lulo. Kebutuhan terhadap iringan musik kemudian melahirkan penggunaan alat musik sederhana, salah satunya Kanda-kanda Uta.