Pada perkembangannya, alat musik ini digunakan dalam berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari upacara adat hingga pesta panen. Permainannya tidak terbatas pada orang tertentu. Siapa pun dapat memainkannya selama memahami cara menghasilkan bunyi dari alat tersebut.
Kanda-kanda Uta juga masih digunakan sebagai hiburan dalam sejumlah kegiatan sosial, seperti menjelang pernikahan, pesta, dan khitanan. Bahkan, sebagian orang tua memainkannya ketika berkumpul bersama teman-teman lama.
Agung menjelaskan, nilai historis alat musik tersebut tidak hanya terletak pada bentuk dan bahan pembuatannya, tetapi juga pada perannya dalam perkembangan kesenian masyarakat Tolaki. Kanda-kanda Uta menjadi alat musik khas Sulawesi Tenggara yang pertama kali digunakan untuk mengiringi tari Lulo.
Penggunaan musik elektronik sebagai pengiring Lulo baru berkembang jauh setelahnya, yakni sekitar dekade 1980-an hingga 1990-an. Perubahan tersebut turut memengaruhi cara masyarakat menikmati dan menyelenggarakan pertunjukan tarian tradisional itu.
Sebagai benda koleksi museum, Kanda-kanda Uta membutuhkan perawatan khusus karena menggunakan bahan organik berupa pelepah sagu dan bambu. Metode konservasinya mengikuti perawatan koleksi berbahan anyaman, salah satunya menggunakan minyak sereh.
