Perawatan dilakukan secara berkala, yakni satu kali dalam setahun. Upaya tersebut bertujuan menjaga kondisi material agar tidak mudah mengalami kerusakan sehingga benda bersejarah itu tetap dapat disimpan dan diperkenalkan kepada masyarakat.
Namun, persoalan yang lebih besar berada pada ketersediaan bahan baku. Pelepah sagu sebagai material utama semakin sulit diperoleh seiring berkurangnya pohon sagu di lingkungan masyarakat.
Agung mengingatkan pentingnya menjaga keberadaan tanaman sagu agar pembuatan alat musik tradisional tersebut tidak kehilangan bahan dasarnya. Menurutnya, pelestarian sagu juga berkaitan dengan keberlanjutan bahan pangan tradisional masyarakat Tolaki.
“Kita harus mengedukasi masyarakat supaya pohon sagu tetap lestari, apalagi sagu juga bahan baku makanan tradisional suku Tolaki,” ujarnya.
Penulis: Meli Andani
