Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR, M.Ag
Dosen Sejarah Pemikiran Islam Pascasarjana IAIN Kendari dan Maheswara Utama PIP BPIP RI
DI ZAMAN ketika manusia berlomba menjadi “terlihat”, Al-Qur’an justru mengajarkan untuk menjadi “bernilai”. Kita hidup dalam peradaban yang mengukur eksistensi dengan angka—jumlah pengikut, tayangan, dan “likes”. Namun, jauh sebelum algoritma digital menentukan apa yang layak muncul di layar kita, Allah telah menetapkan satu hukum yang jauh lebih adil dan absolut:
“Dan bagi masing-masing mereka derajat-derajat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan…” (QS. Al-Ahq?f: 19)
Ayat ini bukan sekadar janji eskatologis, tetapi sebuah deklarasi ontologis: bahwa manusia adalah hasil dari amalnya. Bukan apa yang ia tampilkan, tetapi apa yang ia kerjakan—bahkan yang paling tersembunyi.
